Jujur saja, ketika pertama kali membaca headline tentang selebgram Jule yang tertangkap karena vape
berisi etomidate tapi tidak ditahan, reaksi spontan saya adalah mengangkat alis setinggi mungkin sambil bergumam, “Serius?”
Saya yakin banyak dari kita yang mengalami hal serupa. Ada semacam naluri otomatis yang langsung curiga, bertanya-tanya dalam hati, jangan-jangan ada yang “diamankan” di balik keputusan ini. Apalagi mengingat statusnya sebagai figur publik dengan segudang drama kehidupan yang sudah lama menjadi tontonan jagat maya. Rasanya kok seperti ada yang tidak adil ketika seseorang yang jelas-jelas positif menggunakan narkoba—meskipun lewat jalur yang terbilang baru dan canggih—bisa pulang dengan tenang sambil menjalani rehabilitasi, sementara di luar sana banyak orang yang harus mendekam di balik jeruji besi hanya karena memiliki satu paket kecil barang terlarang.
Tapi sebelum kita semua terlanjur menghakimi, mari kita duduk sebentar, tarik napas dalam-dalam, dan coba bedah persoalan ini dengan kepala dingin. Karena seperti biasa, hukum itu punya logika yang kadang tidak sejalan dengan naluri keadilan kita. Dan dalam kasus ini, logika itu mungkin lebih masuk akal daripada yang kita kira.
Kronologi yang Bermula dari Sebuah Paket
Cerita ini sebenarnya tidak dimulai dari Jule. Dia bukan target utama, bukan pula bandar besar yang selama ini dicari-cari polisi. Semuanya bermula dari dua perempuan berinisial RR dan RN yang ditangkap di sebuah apartemen di Jakarta Barat pada 14 September 2026 .
Dari penangkapan itu, polisi menemukan 27 cartridge vape yang mengandung etomidate. Jumlah yang tidak sedikit, tapi juga tidak bisa dibilang raksasa untuk ukuran jaringan narkoba internasional. Namun dari situlah pintu masuk terungkap.
Ketika memeriksa alat komunikasi kedua tersangka, polisi menemukan bukti transaksi dan pengiriman barang kepada seseorang berinisial JP. Paket itu sedang dalam perjalanan, dan penerimanya tidak lain adalah Julia Prastini, perempuan yang kita kenal sebagai Jule .
Polisi kemudian bergerak ke apartemen Jule di kawasan Jakarta Selatan. Saat digerebek, Jule sedang bersama dua orang rekannya. Dari lokasi tersebut, petugas menyita empat cartridge vape. Tiga di antaranya sudah kosong, sementara satu masih berisi penuh .
Hasil tes urine keluar. Jule positif etomidate. Dua rekannya negatif. Mereka bahkan tidak tahu bahwa Jule menggunakan barang tersebut .
Dari sini, penyelidikan berkembang ke atas. Polisi menangkap XC, seorang warga negara asing asal China yang diduga sebagai bandar utama. Dari tangannya, disita 71 unit vape berisi etomidate dengan model serupa. Jaringan ini disebut telah beroperasi sejak Juli 2026 dengan keuntungan sekitar Rp700 ribu per cartridge, dipasarkan secara tertutup melalui jaringan pertemanan .
Tiga orang ditetapkan sebagai tersangka. Dua bandar perantara dan satu bandar utama. Sementara Jule, satu-satunya pengguna dalam rantai ini, tidak ditetapkan sebagai tersangka.
Kategori Pengguna, Bukan Pengedar
Di sinilah inti persoalannya. Dalam hukum narkotika Indonesia, ada perbedaan mendasar antara pengguna dan pengedar. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika memang mengkriminalisasi keduanya, tetapi perlakuan terhadap keduanya tidak selalu identik. Apalagi setelah adanya berbagai peraturan dan surat edaran yang mendorong pendekatan rehabilitatif terhadap pengguna.
Kasatresnarkoba Polresta Bandara Soekarno-Hatta, AKP Michael Kharisma Tandayu, menjelaskan bahwa keputusan untuk tidak menahan Jule didasarkan pada beberapa faktor. Pertama, barang bukti yang ditemukan menunjukkan pola penggunaan, bukan peredaran. Dari empat cartridge, tiga habis pakai dan satu masih utuh. Tidak ada timbangan, tidak ada kemasan siap edar, tidak ada catatan transaksi yang mengindikasikan jual beli .
Kedua, dari interogasi dan penyelidikan lebih lanjut, Jule disebut baru menggunakan etomidate sekitar dua hingga tiga minggu sebelum penangkapan. “Dia baru mencoba,” kata Michael .
Ketiga, tidak ada bukti yang menghubungkan Jule dengan jaringan peredaran. Dia tidak merekrut orang, tidak mendistribusikan, tidak menerima keuntungan dari penjualan. Posisinya murni sebagai pembeli akhir yang mengonsumsi barang untuk dirinya sendiri.
Dalam kerangka hukum yang berlaku, kombinasi faktor-faktor ini menempatkan Jule dalam kategori pengguna, bukan pengedar. Dan terhadap pengguna, mekanisme restorative justice bisa diterapkan—sebuah pendekatan yang menekankan pemulihan dan rehabilitasi daripada hukuman penjara.
Etomidate: Ketika Obat Bius Jadi Tren yang Mematikan
Sebelum kita terlalu jauh membahas soal hukum, ada baiknya kita memahami apa sebenarnya etomidate ini. Karena jujur saja, sebelum kasus Jule mencuat, mungkin banyak dari kita yang belum pernah mendengar nama zat ini.
Etomidate bukan narkoba jenis baru dalam arti kata sebenarnya. Zat ini sudah dikenal di dunia medis sejak lama. Fungsinya adalah sebagai agen anestesi jangka pendek yang diberikan melalui injeksi intravena. Obat ini biasanya digunakan pada pasien dengan risiko kardiovaskular tinggi karena keunggulannya yang tidak terlalu menurunkan tekanan darah .
Dalam dunia kedokteran, etomidate adalah alat yang sah dan berguna. Tapi seperti banyak hal lain dalam hidup, konteks adalah segalanya. Ketika zat yang seharusnya hanya ada di ruang operasi dengan pengawasan dokter anestesi ini diselundupkan ke dalam cartridge vape dan dihirup oleh orang-orang yang tidak memiliki indikasi medis apapun, ia berubah menjadi ancaman yang serius.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam sebuah artikel yang diterbitkan pada Juli 2025 menyoroti fenomena ini dengan tajam. Mereka menyebutnya sebagai “ancaman yang menyesatkan”—sebuah narasi yang membingungkan antara gaya hidup dan bahaya kesehatan .
Efek samping etomidate ketika dihirup melalui vape bisa sangat berbahaya. Mulai dari mual dan muntah, iritasi saluran napas, gangguan koordinasi tubuh, kehilangan kesadaran, hingga kejang otot. Health Sciences Authority (HSA) Singapura bahkan melaporkan kasus remaja yang kehilangan kesadaran setelah menghirup vape yang mengandung etomidate, dengan gejala neurologis yang serius .
Sebuah studi yang diterbitkan di Singapore Medical Journal pada Januari 2026 mengungkapkan bahwa pengguna vape yang mengandung etomidate—atau yang dikenal sebagai “Kpods” di Singapura—sering mengalami masalah seperti gaya berjalan yang tidak stabil mirip zombie, disregulasi emosi, hingga yang paling ekstrem: upaya bunuh diri dan kematian .
Yang lebih mengerikan, studi yang sama menemukan bahwa sebagian besar pengguna Kpods adalah kaum muda. Dari 22 kasus yang diteliti, 16 di antaranya atau sekitar 72,7 persen adalah remaja .
Tekanan Hidup dan Pelarian yang Salah
Dalam pemeriksaan, Jule mengaku menggunakan etomidate karena alasan pribadi. Polisi menyebut alasannya adalah stres dan tekanan hidup .
Saya tidak akan berpura-pura memahami apa yang ada di kepala Jule saat itu. Kehidupan selebritas memang tidak pernah sesederhana yang terlihat di layar. Ada tekanan ekspektasi, sorotan yang tak pernah padam, dan mungkin juga luka-luka pribadi yang tidak pernah kita ketahui.
Tapi inilah yang membuat kasus ini begitu penting untuk dibicarakan. Karena apa yang dilakukan Jule adalah cerminan dari sesuatu yang jauh lebih besar. Sesuatu yang mungkin dialami oleh ribuan orang lain di luar sana, yang tidak punya akses ke rehab mewah atau pengacara mahal.
Studi di Singapore Medical Journal menyebutkan bahwa pengguna Kpods tertarik pada euforia sementara yang diberikan oleh zat tersebut—sebuah pelarian singkat dari stresor kehidupan. Dan yang membuatnya semakin berbahaya, aksesnya mudah melalui grup-grup Telegram yang tidak diatur, dengan penjual yang gencar menawarkan janji palsu bahwa etomidate dan ketamin tidak terdeteksi dalam tes urin standar .
Janji yang, seperti kita ketahui sekarang dari kasus Jule, sama sekali tidak benar.
Restorative Justice: Keadilan yang Tidak Selalu Terlihat Adil
Konsep restorative justice atau keadilan restoratif sebenarnya bukan hal baru dalam sistem hukum Indonesia. Pendekatan ini telah diperkenalkan dan didorong dalam berbagai regulasi sebagai alternatif dari hukuman penjara yang seringkali tidak menyelesaikan akar masalah.
Untuk kasus narkotika, restorative justice biasanya diterapkan pada pengguna dengan mempertimbangkan beberapa faktor. Apakah yang bersangkutan terlibat dalam jaringan peredaran? Berapa lama yang bersangkutan menggunakan? Apakah ada indikasi pengulangan? Bagaimana kondisi sosial dan kesehatan yang bersangkutan?
Dalam kasus Jule, polisi menilai bahwa semua indikator mengarah pada penggunaan murni. Jule membeli untuk dirinya sendiri. Dia tidak menjual. Dia tidak merekrut. Penggunaannya masih terbilang baru. Dan yang paling penting, tidak ada bukti bahwa dia adalah bagian dari jaringan yang lebih besar.
Keputusan ini mungkin terasa tidak memuaskan bagi sebagian orang. Terutama ketika kita melihat betapa seringnya pengguna kecil—yang mungkin hanya memiliki satu linting ganja atau satu paket kecil sabu—harus berhadapan dengan proses hukum yang panjang dan hukuman yang berat. Ada ketidaknyamanan yang sah ketika kita melihat selebritas dengan sumber daya lebih mendapat perlakuan yang tampak lebih lunak.
Tapi di sisi lain, jika kita percaya bahwa sistem hukum seharusnya konsisten, maka memperlakukan Jule dengan standar yang sama seperti pengguna lain adalah hal yang benar. Apakah itu berarti semua pengguna harus mendapat keringanan serupa? Mungkin. Atau mungkin memang ada gradasi yang perlu dipertimbangkan.
Yang jelas, dalam kerangka hukum yang berlaku saat ini, apa yang dilakukan polisi terhadap Jule bukanlah penyimpangan. Ini adalah penerapan aturan yang sudah ada.
Jaringan yang Lebih Besar dan Modus yang Semakin Canggih
Ada satu aspek dari kasus ini yang menurut saya kurang mendapat perhatian, padahal sebenarnya sangat penting. Yakni, bagaimana kasus Jule mengungkap sebuah jaringan yang jauh lebih besar dan lebih terorganisir dari yang mungkin kita bayangkan.
Etomidate dalam vape bukan fenomena lokal. BPOM menyebutkan bahwa jejak peredaran zat ini bermula di Tiongkok dan Hong Kong sejak 2023. Pada tahun 2024, ditemukan pabrik produksi ilegal di Bangkok, Thailand. Kini kasus serupa telah menyebar ke Indonesia, Singapura, Kamboja, Makau, hingga Selandia Baru .
Ini bukan cerita tentang seorang selebgram yang tersesat. Ini cerita tentang jaringan internasional yang menemukan pasar baru di kalangan anak muda Asia, memanfaatkan popularitas vape sebagai kendaraan untuk memasarkan zat-zat berbahaya.
Yang membuat modus ini semakin canggih adalah kemampuannya menyamarkan diri. Vape etomidate terlihat seperti vape biasa. Warnanya bisa beragam. Rasanya bisa manis. Tidak ada cara mudah bagi orang tua atau guru untuk mengetahui apakah cartridge yang dipegang seorang remaja berisi nikotin biasa atau sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Di Bandung, pada September 2026, polisi bahkan mengungkap kasus yang lebih rumit lagi. Dua orang pria ditangkap karena memproduksi liquid vape yang mengandung MDMB-4en-PINACA, sejenis kanabinoid sintetis golongan I, yang disamarkan sebagai etomidate. Ini adalah taktik baru di mana zat yang lebih berbahaya disembunyikan di balik nama zat yang mungkin sudah mulai dikenal publik .
Kasus ini menunjukkan bahwa pasar narkotika sintetis terus beradaptasi. Ketika satu zat mulai terdeteksi, varian baru muncul. Ketika satu modus mulai diungkap, modus lain dikembangkan. Ini adalah perlombaan yang tidak pernah berakhir antara penegak hukum dan mereka yang mencari keuntungan dari kelemahan manusia.
Mengapa Deteksi Sulit dan Mengapa Itu Penting
Salah satu alasan mengapa etomidate dalam vape begitu sulit ditangani adalah karena deteksinya yang tidak mudah. Berbeda dengan narkotika konvensional yang telah memiliki protokol tes standar, deteksi etomidate dan zat-zat baru lainnya memerlukan metode yang lebih canggih dan spesifik.
Sebuah tinjauan ilmiah yang diterbitkan di ScienceDirect pada tahun 2026 menjelaskan bahwa etomidate mengalami metabolisme utama di hati melalui hidrolisis dan dealkilasi. Sekitar 80 persen metabolitnya diekskresikan melalui ginjal dan empedu, dengan kurang dari 2 persen senyawa induk yang diekskresikan dalam bentuk tidak berubah .
Ini berarti bahwa jendela deteksi untuk etomidate dalam urin mungkin lebih pendek dibandingkan beberapa zat lain. Seseorang yang menggunakan secara sporadis mungkin sudah tidak terdeteksi lagi setelah beberapa hari, sementara pengguna kronis mungkin masih bisa terdeteksi lebih lama.
Selain itu, etomidate memiliki efek samping yang serius pada sistem endokrin. Sebuah laporan kasus yang diterbitkan pada Desember 2025 menyebutkan bahwa inhalasi etomidate dapat menyebabkan supresi adrenal—suatu kondisi di mana kelenjar adrenal tidak mampu memproduksi hormon yang cukup. Gejalanya bisa berupa kelelahan ekstrem, pusing, hingga pingsan berulang. Pada kasus yang dilaporkan, seorang pasien perempuan berusia 33 tahun mengalami pingsan berulang setelah menggunakan dua cartridge etomidate selama dua bulan .
Ini adalah informasi yang sangat penting untuk diketahui publik. Karena banyak pengguna mungkin tidak menyadari bahwa mereka tidak hanya berisiko mengalami efek psikoaktif jangka pendek, tetapi juga kerusakan sistem endokrin yang bisa bertahan berbulan-bulan setelah penggunaan terakhir.
Pelajaran dari Kasus Ini dan Apa yang Bisa Kita Lakukan
Saya bukan ahli hukum, juga bukan dokter. Saya hanya seseorang yang mencoba memahami dunia yang semakin kompleks ini melalui lensa yang tersedia.
Tapi ada beberapa hal yang menurut saya layak untuk kita renungkan bersama.
Pertama, kasus Jule adalah pengingat bahwa narkotika telah menemukan wajah baru. Ia tidak lagi selalu berupa bubuk putih dalam plastik kecil atau pil-pil yang harus ditelan. Ia bisa hadir dalam bentuk yang tampak tidak berbahaya, dalam perangkat yang mungkin kita lihat setiap hari di sekitar kita.
Kedua, kita perlu lebih kritis terhadap narasi yang beredar. Ketika seseorang mengatakan bahwa vape etomidate adalah “aman” atau “tidak terdeteksi,” itu adalah kebohongan yang bisa berakibat fatal. Studi di Singapura menunjukkan bahwa penjual memang sengaja menyebarkan klaim palsu ini untuk menarik pembeli .
Ketiga, dan mungkin yang paling penting, kita perlu membangun kesadaran bahwa mencari bantuan bukanlah tanda kelemahan. Jule mengaku menggunakan etomidate karena stres. Saya yakin ada banyak orang di luar sana yang mengalami hal serupa—terjebak dalam tekanan hidup dan mencari pelarian dengan cara yang salah. Untuk mereka, rehabilitasi bukanlah hukuman, melainkan kesempatan untuk pulih.
Jika ada satu hal yang ingin saya sampaikan, itu adalah ini: jika kamu atau seseorang yang kamu kenal sedang berjuang dengan masalah penggunaan zat, jangan tunggu sampai terlambat. Bantuan ada di luar sana. BNNP memiliki program rehabilitasi. Ada juga layanan konseling dan dukungan psikologis yang bisa diakses. Jangan biarkan rasa malu atau takut menghalangi kamu untuk mencari pertolongan.
Apa yang Ingin Kalian Ketahui?
Kasus ini sebenarnya membuka banyak pertanyaan yang lebih besar dari sekadar status hukum seorang selebgram. Bagaimana kita sebagai masyarakat ingin menangani pengguna narkotika? Apakah kita percaya pada pendekatan rehabilitasi, atau kita lebih memilih hukuman sebagai balasan? Dan bagaimana kita memastikan bahwa keadilan ditegakkan secara konsisten, bukan hanya untuk mereka yang mampu membayar pengacara?
Saya ingin mendengar pendapat kalian. Apa yang menurut kalian paling membingungkan atau mengganggu dari kasus ini? Apakah kalian setuju dengan keputusan polisi untuk tidak menahan Jule? Atau ada aspek lain yang menurut kalian perlu dibahas lebih dalam?
Tulis di kolom komentar, dan mari kita diskusikan bersama.
Penafian: Artikel ini disusun berdasarkan informasi yang tersedia untuk umum dari berbagai sumber berita dan publikasi ilmiah. Tujuan artikel ini adalah untuk memberikan informasi dan mendorong diskusi yang konstruktif. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai nasihat hukum atau medis. Untuk pertanyaan hukum spesifik, konsultasikan dengan profesional yang berkualifikasi. Untuk masalah terkait penggunaan zat, hubungi layanan kesehatan atau rehabilitasi terpercaya.
EmoticonEmoticon