Jadi begini ceritanya, gue lagi duduk santai sambil ngopi di sebuah kafe di Jakarta Selatan, mencoba mencari tontonan yang nggak bikin otak kerja lembur, eh tiba-tiba ada notifikasi dari Disney+ yang bilang kalau Made in Korea Season 2 udah rilis dan langsung bikin gue lupa kalau kopi gue masih panas dan belum gue sentuh sama sekali.
Dan jujur aja, setelah gue tontonin dua episode pertamanya secara maraton sambil ngemil keripik yang akhirnya cuma jadi teman setia di meja karena gue terlalu tegang buat makan, gue bisa bilang dengan cukup yakin kalau musim kedua ini bukan sekadar lanjutan biasa, tapi sebuah evolusi yang bikin kita bertanya-tanya kenapa gue baru sadar sekarang kalau drama Korea soal politik era 70-an bisa seadiktif ini, dan itu bukan sesuatu yang gue ucapkan dengan enteng karena biasanya gue lebih milih komedi romantis buat menemani malam minggu yang sepi.
Ada satu hal yang harus gue akui sebelum kita masuk lebih dalam ke pembahasan yang lebih serius, yaitu fakta bahwa gue menonton musim pertama sekitar bulan Januari lalu dan saat itu gue sempat berpikir kalau ceritanya sudah cukup lengkap dan nggak perlu ada musim kedua, tapi rupanya Disney+ sudah punya rencana lain yang jauh lebih ambisius dari yang bisa gue bayangkan, dan rencana itu melibatkan keputusan yang cukup berani untuk memulai produksi musim kedua bahkan sebelum musim pertama tayang perdana, sebuah langkah yang dalam dunia industri hiburan bisa dibilang sebagai taruhan besar yang berani atau keputusan gila yang didasari oleh keyakinan yang sangat kuat terhadap materi yang mereka miliki.
Dan kalau kita bicara soal keyakinan, maka kita harus bicara soal angka-angka yang membuat semua orang di ruangan produksi bisa tersenyum lebar, karena musim pertama Made in Korea berhasil mencatatkan dirinya sebagai salah satu tayangan orisinal Korea yang paling banyak ditonton pada penayangan perdananya di platform Disney+ untuk wilayah Asia-Pasifik sepanjang tahun 2025, dan prestasi itu kemudian diperkuat lagi dengan posisi puncak di berbagai negara seperti Korea sendiri, Hong Kong, Jepang, dan Taiwan, sebelum akhirnya menembus peringkat kedua secara global.
Sekarang pertanyaannya adalah, apakah musim kedua yang terdiri dari enam episode ini bisa mengulangi kesuksesan yang sama atau mungkin malah melampauinya, dan jawaban singkatnya adalah bahwa berdasarkan data awal yang tersedia, ada banyak alasan untuk percaya bahwa musim ini akan setidaknya sebesar dan sekuat pendahulunya, karena teaser trailer resmi yang dirilis pada bulan Agustus lalu sudah mengumpulkan sekitar 3,32 juta penayangan hanya dalam hitungan hari, sementara berbagai video ulasan yang muncul di YouTube pada hari pertama penayangan sudah mencetak angka yang cukup fantastis seperti 950 ribu penayangan untuk satu kanal dan 760 ribu untuk kanal lainnya.
Tapi mari kita nggak terlalu terjebak dalam angka-angka pemasaran yang bisa dibilang sebagai buah dari kerja keras tim promosi, dan mari kita bicara soal apa yang sebenarnya membuat musim kedua ini terasa berbeda secara fundamental, yaitu keputusan untuk mengubah struktur naratif dari yang sebelumnya episodik menjadi satu alur kontinu yang mengalir dari episode pertama hingga episode keenam, sebuah pilihan yang menurut sutradara Woo Min-ho sendiri membuat pengalaman menonton menjadi jauh lebih imersif karena penonton nggak lagi bisa bernapas lega di akhir setiap episode dengan perasaan bahwa ceritanya sudah selesai untuk malam itu.
Dan omong-omong soal Woo Min-ho, sutradara yang sebelumnya dikenal lewat film-film seperti Inside Men dan The Man Standing Next ini rupanya nggak main-main dalam membangun dunia yang terasa nyata meskipun ceritanya berpusat pada karakter-karakter fiktif, dan dalam konferensi pers yang diadakan di Conrad Seoul pada tanggal 2 September lalu, beliau menjelaskan bahwa meskipun peristiwa sejarah seperti pembunuhan presiden Park Chung-hee pada tahun 1979 dan kudeta militer 12 Desember menjadi latar belakang cerita, fokus utamanya tetap pada karakter-karakter fiksi yang bergerak di pinggiran kekuasaan, dan menurut beliau, cara pandang karakter-karakter ini terhadap peristiwa sejarah itulah yang akan membuat ceritanya terasa berbeda dari film-film yang sudah pernah mengangkat topik serupa.
Sekarang mari kita bicara soal karakter utamanya, yaitu Baek Ki-tae yang diperankan oleh Hyun Bin dengan cara yang membuat kita sebagai penonton merasa tidak nyaman karena kita tahu dia adalah orang jahat tapi kita tetap ingin tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya, dan dalam musim kedua ini Ki-tae sudah menjabat sebagai wakil direktur KCIA setelah berhasil menjebak jaksa Jang Geon-young di akhir musim pertama, dan dia juga telah memperluas jaringan bisnis narkobanya ke seluruh wilayah sambil terus mengumpulkan kekayaan dan pengaruh yang semakin besar.
Hyun Bin sendiri menggambarkan karakter Ki-tae sebagai seseorang yang meskipun telah mencapai posisi yang lebih tinggi dan memiliki lebih banyak kekayaan, tetap merasa kesepian dan terisolasi karena ambisinya yang nggak pernah bisa dipuaskan, dan menurutnya Ki-tae juga menghadapi berbagai krisis akibat pilihan-pilihan berbahaya yang dia ambil, dan semua dimensi kompleks ini adalah hal yang sangat dia perhatikan dalam memerankan karakter tersebut.
Lalu ada Jang Geon-young yang diperankan oleh Jung Woo-sung, jaksa yang di musim pertama tampil sebagai sosok yang gigih mengejar keadilan tapi kemudian harus berakhir di penjara karena dijebak, dan di musim kedua ini dia kembali setelah sembilan tahun dengan tujuan yang jauh lebih personal daripada sekadar menegakkan hukum, dan Jung Woo-sung sendiri mendeskripsikan karakternya sebagai seseorang yang telah kehilangan segalanya dan mencapai titik terendah, dan bahwa pergeseran dari keadilan publik menjadi balas dendam pribadi adalah sesuatu yang terjadi tanpa dia sadari sambil dia terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang dia lakukan adalah benar.
Yang menarik dari dinamika antara Ki-tae dan Geon-young adalah bahwa keduanya sama-sama merasa menjadi korban dari sistem yang korup, tapi cara mereka merespons penderitaan itu sangat berbeda, dan musim kedua ini sepertinya akan terus menguji batas antara keadilan dan balas dendam sampai titik di mana kita sebagai penonton mungkin akan mulai bertanya-tanya apakah ada perbedaan yang signifikan antara keduanya selain dari sisi mana yang kita pilih untuk didukung.
Dan kemudian ada karakter yang mungkin menjadi kunci dari seluruh konflik ini, yaitu Baek Ki-hyun yang diperankan oleh Woo Do-hwan, adik dari Ki-tae yang di musim pertama masih terlihat ragu-ragu dan bimbang, tapi di musim kedua ini telah berkembang menjadi seorang perwira militer dengan prinsip dan keyakinan yang jelas tentang apa yang ingin dia lindungi, dan menurut Woo Do-hwan sendiri, konflik antara dia dan kakaknya justru muncul dari cinta yang mendalam terhadap keluarga, karena semakin dia berusaha melindungi apa yang penting baginya, semakin dia harus berhadapan langsung dengan kakaknya yang telah bertahun-tahun mengendalikan nasib keluarga mereka.
Ada satu adegan dalam episode awal musim kedua di mana Ki-tae berbicara dengan adiknya dan memberikan peringatan yang cukup mengerikan, yaitu bahwa jika Ki-hyun memilih untuk menentangnya, maka dia nggak akan lagi dianggap sebagai keluarga, dan bahwa jika Ki-tae jatuh, seluruh keluarga akan ikut jatuh bersamanya, dan ini adalah momen yang menunjukkan bahwa bagi Ki-tae, keluarga adalah alasan sekaligus beban, sesuatu yang dia perjuangkan tapi juga sesuatu yang dia gunakan sebagai alat untuk mempertahankan kendali.
Sekarang mari kita bicara soal aspek sejarah yang menjadi latar belakang cerita ini, karena salah satu hal yang membuat Made in Korea menarik adalah bagaimana dia menyisipkan karakter-karakter fiktifnya ke dalam celah-celah peristiwa nyata, dan musim kedua ini mengambil latar waktu yang sangat spesifik yaitu periode menjelang kudeta militer 12 Desember 1979 yang terjadi hanya beberapa minggu setelah pembunuhan presiden Park Chung-hee pada 26 Oktober tahun yang sama.
Menariknya, ini bukan pertama kalinya Jung Woo-sung terlibat dalam proyek yang mengangkat periode sejarah ini, karena pada tahun 2023 dia membintangi film 12.12: The Day yang menceritakan kudeta tersebut dari sudut pandang militer, dan sekarang di Made in Korea Season 2 dia melihat periode yang sama dari sudut pandang yang sama sekali berbeda, yaitu dari perspektif seorang jaksa yang mencoba menegakkan keadilan di tengah kekacauan politik yang sedang berlangsung, dan menurut Jung Woo-sung sendiri, perbedaan sudut pandang inilah yang membuat ceritanya terasa segar meskipun mengangkat peristiwa yang sama.
Dan omong-omong soal peristiwa sejarah, ada satu hal yang cukup menggelitik yang gue temukan saat membaca komentar-komentar penonton Korea di berbagai platform online, yaitu fenomena di mana banyak penonton justru berharap agar karakter jahat Baek Ki-tae menang dan mengalahkan Jang Geon-young, dengan alasan bahwa mereka sudah tahu bagaimana sejarah berakhir dan mereka ingin melihat versi alternatif di mana si penjahat yang karismatik bisa keluar sebagai pemenang, dan ada komentar yang mendapat lebih dari 1.400 suka yang berbunyi "kalau sepertinya Jung Woo-sung akan menang, gue akan berhenti nonton," dan ini adalah fenomena yang cukup menarik karena menunjukkan bagaimana sebuah karakter fiktif bisa membuat penonton mengesampingkan pengetahuan sejarah mereka demi kepuasan dramatis.
Tapi tentu saja, sebagai penulis yang mencoba untuk tetap objektif, gue harus mengingatkan bahwa fenomena ini bukanlah sesuatu yang unik untuk Made in Korea, karena kita sudah sering melihat bagaimana karakter-karakter antagonis yang ditulis dengan baik dan diperankan dengan karisma bisa mencuri simpati penonton bahkan ketika tindakan mereka secara moral tidak bisa dibenarkan, dan dalam kasus Ki-tae, daya tariknya justru datang dari fakta bahwa dia bukanlah penjahat yang lahir dari kejahatan murni, melainkan produk dari sistem yang korup dan dunia yang keras, dan kita sebagai penonton diajak untuk memahami mengapa dia menjadi seperti ini tanpa harus menyetujui apa yang dia lakukan.
Dan ini membawa kita pada pertanyaan yang lebih besar tentang apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh Made in Korea sebagai sebuah karya, karena di permukaan ceritanya bisa terlihat seperti thriller politik yang menegangkan tentang dua orang yang saling memburu, tapi di bawah permukaan ada lapisan-lapisan kritik sosial tentang bagaimana kekuasaan bisa merusak siapa saja yang menyentuhnya, bagaimana sistem yang gagal melindungi yang lemah justru menciptakan monster-monster yang kemudian mengancam sistem itu sendiri, dan bagaimana garis antara pahlawan dan penjahat seringkali ditentukan oleh siapa yang menang dalam pertarungan memperebutkan narasi sejarah.
Ada satu kutipan menarik dari ulasan di BusinessMirror yang menyebutkan bahwa Ki-tae adalah monster yang dihasilkan oleh dunia yang buruk, dan bahwa dia nggak pernah diminta untuk kita kasihani, karena masa lalunya menjelaskan tapi nggak membenarkan, dan dia bukan karakter yang dilembutkan oleh masa kecil yang tragis atau diberi celah moral yang nyaman, melainkan disajikan sebagai sosok yang menjijikkan tapi juga menakutkan karena kompeten, karismatik, dan keren, dan kita mungkin membenci apa yang dia lakukan tapi kita nggak bisa mengalihkan pandangan.
Dan menurut gue pribadi sebagai penulis yang sudah cukup banyak menonton drama Korea dan film-film noir, apa yang membuat Made in Korea berbeda dari kebanyakan cerita serupa adalah keberaniannya untuk nggak memberikan penonton karakter yang bisa dengan mudah dicintai, karena bahkan Jang Geon-young yang seharusnya menjadi pahlawan dalam cerita ini digambarkan sebagai sosok yang enigmatic dan idealismenya nggak sepenuhnya dipahami bahkan oleh keluarganya sendiri, dan ini menciptakan semacam kekosongan moral di mana kita sebagai penonton harus memutuskan sendiri siapa yang layak untuk kita dukung tanpa ada panduan yang jelas dari narasi.
Sekarang mari kita bicara soal aspek teknis dari produksi musim kedua ini, karena salah satu hal yang membuat musim pertama terasa begitu memukau adalah sinematografinya yang berhasil menangkap atmosfer Korea tahun 70-an dengan detail yang sangat meyakinkan, dan untuk musim kedua ini tantangannya adalah menghadirkan periode sembilan tahun kemudian di mana teknologi dan situasi politik telah berubah secara signifikan, dan menurut laporan dari berbagai media, tim produksi telah bekerja sama dengan berbagai ahli sejarah dan desainer produksi untuk memastikan bahwa setiap detail dari kostum, kendaraan, hingga peralatan kantor yang muncul di layar bisa mencerminkan periode tersebut dengan akurat tanpa mengorbankan estetika visual yang sudah menjadi ciri khas serial ini.
Dan omong-omong soal aspek teknis, ada satu hal yang mungkin nggak banyak diketahui oleh penonton awam, yaitu bahwa proses produksi musim kedua ini sebenarnya dimulai jauh sebelum musim pertama tayang, karena Disney+ telah memberikan lampu hijau untuk kelanjutan cerita sejak bulan November 2025, dan keputusan ini memungkinkan tim produksi untuk bekerja tanpa jeda yang panjang, sehingga mereka bisa mempertahankan momentum dan memastikan bahwa kualitas cerita tetap konsisten dari musim pertama ke musim kedua.
Proses syuting sendiri dilaporkan berlangsung dari akhir tahun 2024 hingga pertengahan 2025, dan setelah itu tim langsung beralih ke produksi enam episode terakhir, dan pada bulan Agustus 2026 teaser trailer sudah dirilis dan post-production telah selesai, yang berarti semua elemen telah dipersiapkan dengan matang untuk penayangan pada bulan September.
Dan ini adalah sesuatu yang menurut gue pribadi sebagai penulis yang pernah terlibat dalam beberapa proyek kreatif adalah pencapaian yang cukup luar biasa, karena biasanya produksi serial televisi yang melibatkan banyak aktor papan atas dan tim kreatif yang sibuk akan menghadapi berbagai kendala penjadwalan yang bisa memperlambat proses, tapi dalam kasus Made in Korea, semuanya tampaknya berjalan dengan lancar dan efisien, dan ini menunjukkan tingkat profesionalisme dan komitmen yang tinggi dari semua pihak yang terlibat.
Sekarang mari kita bicara soal para pemain pendukung yang juga memberikan kontribusi signifikan terhadap kekuatan musim kedua ini, karena selain trio utama Hyun Bin, Jung Woo-sung, dan Woo Do-hwan, ada juga Seo Eun-soo yang kembali memerankan Oh Ye-jin yang di musim kedua ini telah beralih dari penyelidik menjadi jaksa, dan Won Ji-an yang memerankan Ikeda Yuji, tokoh yakuza yang memiliki ambisi besar dan harus menghadapi diskriminasi baik sebagai perempuan maupun sebagai orang Korea di Jepang.
Menurut berbagai ulasan yang sudah beredar, karakter Ikeda Yuji mendapat porsi layar yang jauh lebih besar di musim kedua ini, dan ada beberapa adegan pertarungan yang melibatkan dirinya, dan Won Ji-an sendiri dilaporkan bekerja sama dengan sutradara Woo Min-ho untuk membangun karakter ini dengan lebih mendalam, dan ini adalah hal yang menarik karena karakter-karakter perempuan dalam drama ini secara umum digambarkan sebagai sosok-sosok yang harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan pengakuan di lingkungan yang didominasi oleh laki-laki, dan perjuangan mereka seringkali terasa lebih heroik daripada perjuangan karakter utama laki-laki yang sudah memiliki kekuasaan.
Dan ada juga karakter Baek So-yeong yang diperankan oleh Cha Hee, adik perempuan dari Ki-tae yang mengagumi kakaknya dan mencintainya lebih dari siapa pun, tapi juga memiliki kemauan sendiri yang membuatnya nggak selalu mengikuti keinginan kakaknya, dan menurut Cha Hee sendiri, kepribadian So-yeong telah berubah 180 derajat dalam sembilan tahun sejak musim pertama, dan ini memungkinkan kita untuk melihat lebih banyak dimensi dari karakternya di luar sekadar rasa sayangnya terhadap kakaknya.
Sekarang mari kita bicara soal soundtrack musim kedua ini, karena salah satu elemen yang sering diabaikan tapi sangat penting dalam membangun atmosfer sebuah drama adalah musik, dan untuk Made in Korea Season 2, album soundtrack-nya dirilis pada tanggal 9 September 2026 dengan total 30 track yang mencakup berbagai komposisi dari yang berjudul sederhana seperti Mrs. Shin hingga yang terdengar epik seperti The Last Stand pt.1 dan pt.2, dan durasi total album ini mencapai sekitar 68 menit, yang berarti cukup untuk menemani kita selama beberapa jam kerja atau belajar sambil membayangkan adegan-adegan menegangkan dari serial ini.
Beberapa judul track yang menurut gue pribadi cukup menggambarkan tone dari musim ini adalah Ambition Unbound, The Fall, Documents in Flames, dan Final Reckoning, dan kalau kita membaca judul-judul ini secara berurutan, kita bisa mendapatkan gambaran tentang arc emosional yang akan kita alami sepanjang enam episode, mulai dari ambisi yang nggak terbatas, kejatuhan, dokumen-dokumen yang dibakar, hingga perhitungan terakhir yang menentukan nasib semua karakter.
Dan omong-omong soal nasib karakter, ini adalah musim terakhir dari serial ini, yang berarti semua pertanyaan yang kita miliki sejak musim pertama akan terjawab, dan nggak akan ada musim ketiga yang bisa membuat kita bertanya-tanya tentang apa yang terjadi selanjutnya, dan ini adalah keputusan yang menurut gue cukup bijak dari pihak produksi karena mereka memilih untuk mengakhiri cerita dengan cara yang mereka inginkan daripada memperpanjangnya sampai kehilangan fokus dan kualitas.
Tapi tentu saja, ada sisi lain dari keputusan ini yang membuat gue sebagai penonton merasa sedikit sedih, karena kita nggak akan lagi melihat karakter-karakter yang sudah kita kenal dan kita ikuti perjalanannya selama dua musim, dan ini adalah perasaan yang cukup umum dialami oleh penonton yang sudah terlanjur terikat secara emosional dengan sebuah cerita, dan gue rasa nggak ada obat untuk perasaan ini selain mencari tontonan baru yang bisa mengisi kekosongan yang ditinggalkan.
Sekarang mari kita bicara soal sesuatu yang mungkin nggak banyak dibahas oleh kritikus lain, yaitu tentang bagaimana Made in Korea menggunakan elemen-elemen genre noir untuk membangun atmosfer yang khas, dan kalau kita perhatikan dengan seksama, kita akan menemukan bahwa banyak elemen klasik dari film noir hadir dalam serial ini, mulai dari protagonis yang secara moral ambigu, femme fatale yang sebenarnya bukanlah femme fatale dalam pengertian tradisional tapi lebih kepada perempuan-perempuan kuat yang memiliki agenda sendiri, kota yang gelap dan penuh dengan rahasia, hingga narasi yang berputar di sekitar pengkhianatan dan balas dendam.
Tapi yang membuat Made in Korea menarik adalah bagaimana dia memadukan elemen-elemen noir ini dengan konteks sejarah Korea yang sangat spesifik, sehingga ceritanya terasa segar dan nggak seperti sekadar tiruan dari karya-karya noir Barat, dan ini adalah sesuatu yang menurut gue patut diapresiasi karena menunjukkan bahwa genre noir bisa diadaptasi ke dalam konteks budaya yang berbeda tanpa kehilangan esensi yang membuatnya menarik.
Dan omong-omong soal konteks budaya, ada satu hal yang menurut gue cukup menarik untuk dibahas, yaitu tentang bagaimana Made in Korea menggambarkan hubungan antara Korea dan Jepang melalui karakter Ikeda Yuji, dan ini adalah topik yang cukup sensitif dalam hubungan bilateral kedua negara, tapi serial ini tampaknya mencoba untuk menanganinya dengan cara yang cukup berimbang dengan menunjukkan bahwa dalam dunia kriminal dan dunia kekuasaan, batas-batas nasionalitas seringkali menjadi kabur ketika ada keuntungan ekonomi yang bisa diperoleh oleh kedua belah pihak.
Sekarang mari kita bicara soal sesuatu yang mungkin terdengar sepele tapi sebenarnya cukup penting untuk pengalaman menonton, yaitu tentang bagaimana cara menonton musim kedua ini dengan optimal, dan menurut gue pribadi, karena ceritanya adalah satu alur kontinu dari episode pertama hingga keenam, maka cara terbaik untuk menontonnya adalah dengan memberi jeda yang cukup antara episode agar kita bisa memproses semua informasi dan emosi yang kita alami, karena kalau kita menonton semuanya dalam satu malam, kita mungkin akan merasa kewalahan dan kehilangan beberapa detail penting yang sebenarnya cukup krusial untuk memahami keseluruhan cerita.
Dan ini membawa gue pada satu nasihat yang mungkin cukup sederhana tapi sering diabaikan oleh penonton yang terlalu bersemangat, yaitu bahwa menonton drama yang serius seperti Made in Korea sebaiknya dilakukan ketika kita dalam kondisi mental yang siap untuk menerima konten yang cukup berat, karena ceritanya melibatkan tema-tema seperti korupsi, pembunuhan, dan pengkhianatan yang bisa meninggalkan kesan yang cukup mendalam bahkan setelah kita selesai menonton, dan nggak ada salahnya untuk menyiapkan camilan atau minuman favorit untuk menemani sesi menonton agar pengalamannya menjadi lebih menyenangkan.
Sekarang mari kita bicara soal aspek komersial dari serial ini, karena selain sebagai karya seni, Made in Korea juga merupakan produk hiburan yang harus menghasilkan keuntungan bagi platform yang mendistribusikannya, dan dalam konteks ini, kita perlu memahami bahwa Disney+ telah menginvestasikan sumber daya yang cukup besar dalam serial ini, mulai dari biaya produksi yang tinggi karena melibatkan aktor-aktor papan atas, hingga biaya pemasaran yang tentunya nggak sedikit untuk memastikan bahwa serial ini mendapatkan perhatian yang layak dari penonton di seluruh dunia.
Dan menurut data yang tersedia, investasi ini tampaknya membuahkan hasil yang memuaskan, karena musim pertama berhasil menjadi tayangan orisinal Korea yang paling banyak ditonton pada penayangan perdananya di platform Disney+ untuk wilayah Asia-Pasifik sepanjang tahun 2025, dan prestasi ini kemudian diperkuat dengan berbagai penghargaan di Baeksang Arts Awards, yang berarti serial ini nggak hanya sukses secara komersial tapi juga diakui secara kritis oleh industri hiburan Korea.
Untuk musim kedua ini, meskipun data peringkat global yang lengkap belum tersedia pada saat artikel ini ditulis, ada beberapa indikator awal yang menunjukkan bahwa minat penonton tetap tinggi, seperti posisi peringkat di FlixPatrol untuk wilayah Korea dan Taiwan, serta jumlah penayangan trailer dan video ulasan yang cukup signifikan dalam beberapa hari pertama setelah penayangan.
Dan omong-omong soal data, ada satu hal yang perlu kita catat tentang sifat data peringkat streaming, yaitu bahwa angka-angka ini adalah indikator yang berguna tapi nggak bisa dijadikan patokan mutlak untuk mengukur kualitas sebuah karya, karena ada banyak faktor lain yang mempengaruhi seberapa sukses sebuah serial, seperti retensi penonton dari episode pertama ke episode terakhir, dampak terhadap jumlah pelanggan baru yang mendaftar ke platform, dan tentu saja dampak budaya yang lebih luas yang mungkin baru terasa dalam jangka panjang.
Sekarang mari kita bicara soal sesuatu yang mungkin terdengar sedikit filosofis tapi menurut gue penting untuk dibahas, yaitu tentang mengapa kita sebagai manusia tertarik pada cerita-cerita tentang kekuasaan dan korupsi, dan salah satu jawabannya mungkin karena cerita-cerita seperti ini memungkinkan kita untuk menjelajahi sisi gelap dari sifat manusia tanpa harus benar-benar mengalami konsekuensinya, dan kita bisa belajar tentang bahaya dari ambisi yang nggak terkendali dan konsekuensi dari pilihan-pilihan yang salah tanpa harus membuat pilihan-pilihan itu sendiri dalam hidup kita.
Dan dalam konteks ini, Made in Korea bisa dilihat sebagai semacam cermin yang memantulkan pertanyaan-pertanyaan sulit tentang moralitas dan kekuasaan, dan meskipun setting-nya adalah Korea pada tahun 1970-an, tema-tema yang diangkat tetap relevan dengan dunia kita saat ini, karena korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan perjuangan antara keadilan dan kepentingan pribadi adalah masalah-masalah yang masih kita hadapi hingga hari ini, dan mungkin itulah mengapa cerita seperti ini terus menarik perhatian kita dari generasi ke generasi.
Dan ada satu kutipan nasihat yang mungkin bisa kita ambil dari karakter Jang Geon-young dalam musim pertama, di mana dia pernah mengatakan sesuatu tentang bagaimana keadilan sejati membutuhkan pengorbanan, dan meskipun kita mungkin nggak setuju dengan semua metode yang dia gunakan di musim kedua ini, kita bisa mengapresiasi semangatnya untuk nggak menyerah bahkan ketika seluruh sistem tampaknya sudah dikorupsi oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya.
Sekarang mari kita bicara soal sesuatu yang lebih praktis, yaitu tentang bagaimana kita sebagai penonton bisa mendapatkan pengalaman menonton yang lebih kaya dengan membaca berbagai ulasan dan analisis yang tersedia di internet, karena meskipun kita bisa menikmati sebuah serial tanpa pengetahuan tambahan, memahami konteks sejarah dan budaya di balik ceritanya bisa membuat pengalaman menonton menjadi jauh lebih bermakna, dan ada banyak sumber daya yang tersedia secara gratis yang bisa membantu kita memahami periode sejarah yang menjadi latar belakang Made in Korea.
Tapi tentu saja, kita juga perlu berhati-hati agar nggak terlalu banyak membaca ulasan sebelum menonton, karena beberapa ulasan mungkin mengandung spoiler yang bisa mengurangi kenikmatan menonton, dan menurut gue pribadi, cara terbaik adalah menonton dulu baru kemudian membaca ulasan, karena dengan begitu kita bisa membandingkan interpretasi kita sendiri dengan interpretasi orang lain tanpa terpengaruh oleh pendapat mereka.
Sekarang mari kita bicara soal sesuatu yang mungkin terdengar sepele tapi sebenarnya cukup penting, yaitu tentang bagaimana kita sebagai penonton bisa berkontribusi pada kesuksesan sebuah karya yang kita sukai, dan salah satu caranya adalah dengan berpartisipasi dalam diskusi online, menulis ulasan, atau merekomendasikan serial ini kepada teman-teman yang mungkin tertarik, karena dalam era streaming yang penuh dengan pilihan ini, perhatian adalah mata uang yang sangat berharga, dan karya-karya yang berani mengambil risiko kreatif seperti Made in Korea layak mendapatkan dukungan dari penonton yang menghargai usaha mereka.
Dan omong-omong soal dukungan, gue ingin mengajak kalian semua untuk berdiskusi tentang apa yang kalian pikirkan tentang musim kedua ini, karena gue sangat penasaran dengan pendapat kalian tentang berbagai aspek dari serial ini, mulai dari akting para pemain, alur cerita, hingga pesan-pesan yang mungkin kalian tangkap dari ceritanya, dan gue percaya bahwa setiap penonton memiliki perspektif yang unik yang bisa memperkaya pemahaman kita bersama tentang karya ini.
Sebelum kita mengakhiri artikel yang sudah cukup panjang ini, ada satu hal yang perlu gue sampaikan sebagai disclaimer, yaitu bahwa artikel ini adalah analisis dan ulasan yang ditulis berdasarkan informasi yang tersedia untuk umum pada saat penulisan, dan bahwa interpretasi yang gue sampaikan adalah pendapat pribadi yang nggak mewakili pandangan resmi dari platform streaming atau tim produksi Made in Korea, dan bahwa setiap penonton berhak untuk memiliki pendapat yang berbeda tentang karya ini.
Dan sebagai penutup, gue ingin mengutip sesuatu yang mungkin terdengar sederhana tapi menurut gue cukup mendalam, yaitu bahwa cerita yang baik bukanlah cerita yang memberikan jawaban atas semua pertanyaan, melainkan cerita yang membuat kita bertanya lebih banyak, dan dalam hal ini, Made in Korea Season 2 adalah cerita yang baik karena dia nggak hanya menghibur kita dengan adegan-adegan aksi yang menegangkan dan akting yang memukau, tapi juga membuat kita berpikir tentang sifat kekuasaan, harga dari ambisi, dan apakah mungkin untuk tetap menjadi manusia yang baik di dunia yang telah lama kehilangan kebaikannya.
Dan nasihat terakhir dari gue pribadi sebagai penulis yang telah menghabiskan cukup banyak waktu untuk merenungkan berbagai aspek dari serial ini adalah bahwa kita sebaiknya nggak terlalu keras pada diri sendiri jika kita menemukan bahwa kita menikmati karakter-karakter yang secara moral bermasalah dalam fiksi, karena menikmati sebuah karakter dalam cerita nggak sama dengan menyetujui tindakan mereka dalam kehidupan nyata, dan bahwa salah satu fungsi dari seni adalah memungkinkan kita untuk menjelajahi sisi-sisi gelap dari pengalaman manusia dalam lingkungan yang aman, dan yang terpenting adalah bahwa kita tetap bisa membedakan antara fiksi dan kenyataan, dan bahwa kita menggunakan pemahaman yang kita dapatkan dari cerita-cerita seperti ini untuk menjadi manusia yang lebih baik dalam kehidupan kita sendiri.
EmoticonEmoticon